Suasana Kerja Seharusnya Selalu “Fun”

Oleh: Marjohan, M.Pd

Guru SMAN 3 Batusangkar

Bekereja adalah kebutuhan manusia dan lingkungan tempat bekerja bisa jadi di rumah, di sekolah, di kantor, di pabrik, di perbankan, di lembaga swasta, dan lain-lain. Suasana di tempat kerja bisa menyenangkan dan juga bisa membosankan. Suasana di tempat kerja bisa jadi membosankan gara-gara karakter yang kaku tumbuh pesat. Karakter ini bisa membuat banyak orang menjadi stress dan pekerjaan terasa beban yang berat. “Apakah pekerjaan terasa sebagai beban hidup ?,…wah ini tidak perlu”. Suasana begini terjadi karena kita terjebak dalam suasana kaku, beku dan juga suka “jaga imej” alias mahal senyum. Karakter ini selalu kita pelihara sepanjang hari di tempat kerja.

Kegembiraan dalam bahasa Inggris adalah “fun”. Kegembiraan di tempat kita bekerja dan juga di tempat belajar, seharusnya menjadi trend yang baru. Banyak orang makin menyadari manfaat atas kata “fun” ini. Di beberapa tempat bisnis (pendidikan berkualitas, tempat bermain, perdagangan) banyak orang memajang kata “fun atau  kegembiraan” sebagai daya terhadap pelanggan, ya karena di sana betul-betul ada pelayanan dengan aktivitas yang menyenangkan.

Kegembiraan di tempat kerja merupakan satu-satunya ciri penting dari organisasi dan sekolah yang terkenal kesuksesannya. Banyak orang dapat melihat dan merasakan hubungan langsung antara kegembiraan di tempat kerja dengan kreatifitas mereka. Untuk dunia pendidikan adalah kegembiraan siswa dengan hasil belajar mereka. Tempat kerja yang menyenangkan akan membuat seseorang bisa jadi produktif, bersemangat dan  merasa puas. Mereka juga mempunyai rasa memiliki,  rasa dilayani atau rasa melayani yang tulus.

Fun” tidak hanya harus dilakukan oleh seseorang tapi juga oleh perusahaan. Sebuah perusahaan bisa sukses karena telah menjandikan kegembiraan (fun) sebagai bagian dari budaya perusahaan. Kegembirran telah menjadi strategi organisasi untuk mencapai hasil yang luar biasa di tempat kerja tersebut, mulai dari sesi pelatihan, rapat, hingga praktik perekrutan semuanya penuh dengan suasana “fun”.

Kalau begitu kegembiraan adalah elemen penting dalam kelangsungan hidup. Namun mengapa kita sering melupakannya dan menyisihkasnnya dari kehidupan kita. Gara-gara suasana kegembiraan kita buang atau kita jauhkan dari hidup maka ketegangan bisa timbul dalam jiwa kita. Diperkirakan bahwa awal dari munculnya  gangguan jiwa adalah karena hilangnya perasaan senang dalam hidup ini. Coba amati, pasti teman-teman kita yang lagi stress atau depresi terjadi karena suasana “fun” sudah jauh dari mereka.

Sebenarnya suasana fun atau kegembiraan dapat kita ekspresikan dalam bentuk humor. Ya, bahwa humor bisa membantu seseorang dalam melewati krisis dan perubahan dalam hidup. Kegembiraan mampu membantu kita untuk mengendurkan ketegangan dalam fikiran. Dengan kata lain bahwa kegembiraan (mungkin dalam bentuk humor) dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam menghadapi stress.

Orang-orang  yang  mampu mengintegrasikan kegembiraan ke dalam pekerjaan akan membuat mereka betah berada di tempat kerja. Siswa yang bergembira di kelas akan betah berada di sekolah. Kegembiraan yang diciptakan di tempat kerja (begitu juga untuk di sekolah) akan menular satu sama lain.

Umumnya fokus kegiatan yang kita lakukan dalam lingkungan tempat kerja meliputi kegiatan berkomunikasi, memberikan pelatihan, dan mengikuti rapat. Hemasth dan Yerkes (1997) mengatakan bahwa seharusnya setiap orang tidak perlu berpenampilan serius saat bekerja, tetapi cobalah untuk tertawa. Komunikasi mereka (kita) tidak perlu kaku, namun kita juga boleh membuat lelucon atau guyon. Kemudian bila kita memberikan pelatihan, maka kita tidak perlu berbelit-belit/ bertele-tele. Idealnya kita musti mempelajari saja hal- hal  yang fundamental/ penting. Selanjutnya dalam rapat maka setiap individu perlu memperoleh penghargaan. Berikut ini adalah prinsip-prinsip bagaimana kita bisa “fun” dalam bekerja agar selalu enjoy dalam bekerja dan jauh dari suasana stress dan rasa bosan.

1). Sempatkan tertawa/ tersenyum saat bekerja. Siapa saja dapat menciptakan tempat kerja yang menyenangkan karena suasana menyenangkan berpengaruh positif pada produktifitas. Untuk meng-update lingkungan kerja dengan semangat yang penuh gembira maka kita harus menghargai kegembiraan sebagai hal penting. Kita harus yakin bahwa kegembiraan itu sangat essential. Jika kita ingin kegembiraan meresap ke dalam budaya kerja maka kita musti memulainya dengan diri sendiri, yaitu berusahalah untuk ceria.

Sebuah lingkungan kerja yang mendorong tumbuhnya suasana “fun” atau kegembiraan bisa ditandai oleh adanya energi positif. Di lingkungan ini musti ada penghargaan diri yang tinggi, dan semangat kerja sama- atau kerja kelompok. Untuk dapat melatih setiap orang agar dapat melakukan apa saja, maka terlebih dahulu kita harus memiliki motivasi. Suasana “fun” sendiri bisa meningkatkan motivasai. Kalau pekerjaan dan lingkungan kerja sudah menyenangkan maka hasilnya akan lebih baik.

Suasana kerja yang terlalu serius dapat mematikan semangat kerja. Banyak orang di tempat kerja yang terlihat serius, akibatnya kita dan juga setiap orang yang berada di dalamnya bisa menjadi stress. Orang yang bekerja dalam keadaan stress maka sifat kreatifnya akan rusak. Siswa yang belajar dalam keadaan stress juga tidak akan begitu kreatif. Di tempat kerja yang serius, maka humor dan keceriaan adalah hal yang langka. Padahal humor itu sendiri bisa  akan memudahkan hubungan antar manusia. Humor dan lelucon yang tidak menyakitkan hati seseorang dapat menciptakan kegembiraan bagi kita dan teman  di tempat kerja. Selanjutnya suasana yang humoris dan suasana ceria membuat setiap orang bisa beraktivitas tanpa ada rasa takut.

Dari pengalaman di dunia pendidikan terlihat bahwa guru yang memiliki rasa humor akan bekerja (mengajar) lebih baik daripada guru yang kurang memiliki rasa humor. Guru yang punya rasa humor akan menikmati pekerjaan/ profesinya. Seorang siswa yang berkarakter “serius dan gampang mendongkol” akan bekerja dengan suasana hati yang kurang enjoy dan hasil belajarnya juga akan nihil.

Adalah fenomena dalam masyarakat kita bahwa kehadiran anak anak dan bayi umumnya disambut gembira oleh anggota keluarga. Kedatangan anak-anak ke Play Group, TK dan PAUD juga disambut gembira guru pengasuh dan pembina. Para pedagang juga menyambut kedatangan pembeli. Namun tidak demikian halnya dengan kedatangan dan kehadiran siswa di SD, SMP, SMA/MA dan SMK. Mereka tidak lagi memperoleh perlakuan khusus. Kecuali pada beberapa sekolah yang menerapkan pelayanan unggul, “memberikan senyum, keramahan dan suasana yang menyenangkan”, hingga semua siswa akhirnya menjadi betah berada di sekolah. Idealnya suasana penyambutan siswa dan anak harus dihidupkan lagi. “Sambutlah kedatangan anak ke rumah, ke datangan siswa ke sekolah, ke datangan klien ke tempat bisnis” niscaya mereka merasa betah dan mereka menjadi kreatif.

2). Musik, selain suasana humoris, dan bercanda, menghidupkan musik juga bisa mendatangkan suasana gembira. Musik adalah bahan bakar yang bisa mendatangkan suasana “fun” atau kegembiraan. Penulis masih ingat bahwa ada seorang teman yang bekerja di percetakan. Ia selalu mendengar/ memutar musik yang ia sukai,  maka produktivitasnya jadi meningkat “kalau tidak pakai musik aku merasa bosan dan mengantuk di ruangan ini”. Karyawan yang mendengarkan musik di tempat kerja akan merasa lebih antusias dan lebih santai. Hal yang kontra, penulis pernah mengajar pada sebuah sekolah berasrama (boarding school). Kebijakan di sana bahwa para siswa dilarang memutar music karena dianggap mengganggu belajar, namun akibatnya siswa menjadi agressif, bosan dan satu demi satu pindah dariboarding school ke sekolah lain. Kini sekolah tersebut selalu kekurangan murid sepanjang tahun, malah terancam akan gulung tikar.

3). Komunikasi adalah kunci dari kelangsungan aktifitas di tempat kerja. Komunikasi sebaiknya juga diekspresikan dengan suasana riang gembira. Mengapa banyak tempat kerja suasana komunikasainya serba serius, miskin bercanda dan tertawa? Yak arena banyak orang beranggapan bahwa bekerja itu harus serius dan bercanda itu dianggap bermain-main. “Tidak ada waktu, tidak cukup dan tidak akurat suasananya…!” Keluhan itulah yang paling sering didengar ketika seseorang membicarakan proses komunikasai di tempat kerja. Akhirnya orang suka menutup diri. Menutup diri berarti tidak lancer berkomunikasi dan memperoleh informasi. Kurangnya  informasi bisa menjadi faktor penentu dalam keberhasilan atau kegagalan dalam mengambil keputusan, negosiasi dan hubungan social.

Seorang karyawan yang tidak memperoleh informasi tentu tidak akan bertanggung jawab secara penuh “Wah aku tidak diberitahu dan aku tidak mau bertanggung jawab”. Informasi adalah kekuatan- information is power. Tempat kerja (begitu juga dengan lingkungan sekolah dan rumah) yang sehat emosinya harus kaya dengan informasi. Model pendekatan terbuka sangat tepat untuk meningkatkan keterlibatan dan pengayaan informasi pada anggota (juga terhadap  karyawan dan  siswa).

Informasi di tempat kerja perlu disampaikan dengan cara yang tepat dan dengan kepekaan. Jika suasana komuniksasi sangat menyenangkan dan mengesankan maka kita akan memperoleh perhatian dari orang yang diajak dalam berkomunikasi. Komunikasi juga merupakan kunci penting untuk meraih keberhasilan dalam  aktifitas di tempat kerja.

Bila kegembiraan telah menjadi budaya kita, maka kita (dan banyak orang) akan lebih santai dan terbuka untuk memikirkan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif. Sebuah senyuman akan berpengaruh positif pada suara kita. Orang biasanya akan merespon kita lebih baik jika kita tersenyum saat berbicara dengan mereka. Kalau kita perhatikan fenomena di zaman phone mobile ini bahwa orang tidak hanya tersenyum saat berbicara langsung, namun saat menelpon orang juga tersenyum dengan partner yang tidak terlihat yang jaraknya mungkin puluhan kilometre. .

Orang yang suka jaim (jaga imej- istilah anak muda sekarang untuk orang yang mahal senyum) mungkin sering komunikasai mereka tidak lancar. Padahal dalam memuluskan komunikasai, senyum  bisa menjadi kunci keberhasailan atas aktifitas mereka. Komunikasi yang buruk akan bisa menciptakan kerumitan dan kebingungan. Orang yang berbahagia adalah orang yang memperhatikan kualitas komunikasi- menciptakan suasana kegembiraan dan mengurangi konflik, hingga akhirnya setiap orang akan merasa puas.

4) kegembiraan dalam Pelatihan dan rapat. Pelatihan dan rapat adalah dua bentuk kegiatan yang selalu ada di tempat kerja. Idealnya pelatihan jangan bertele-tele, tetapi harus menyentuh hal-hal yang fundamental (hal yang mendasar). Sering suasana rapat sangat membosankan. Yang berbicara adalah orang yang berbakat ngobrol dan sisanya menjadi pendengar atau menjadi pelengkap saja, dimana mereka tiap saat selalu melihat putaran jam dan berharap agar rapat segera berakhir.

Rapat itu idealnya harus bersuasana gembira. Bayangkan, biaya rapat itu kadang-kadang cukup mahal. “Ya ada biaya transport, biaya konsumsi, biaya key noter-speaker”. Namun apakah ada hasil sepadan yang diperoleh ? Apalagi kalau rapat diwarnai oleh pemimpin yang killer atau yang pemarah. Seharusnya suasana rapat juga harus gembira, karena gembira bisa menjadi katalis untuk sebuah rapat yang efektif. Kegembiraan dan humor juga dapat digunakan dengan tepat. Ini dapat mengurangi ketegangan dalam rapat dan menciptakan suasana yang mendorong terciptanya dialog yang terbuka, adanya keberanian untuk mengungkapkan opini dan keterbukaan pemikiran.

Dalam rapat dan dalam berkomunikasi sangat mutlak diselipkan unsure penghargaan. Karena penghargaan adalah alat manajemen yang paling efektif dalam mengurus sosial,  namun kita (dan banyak orang) kadangkala  kurang memanfaatkannya. “Semua orang ingin penghargaanbukan ?”.

Ya, semua orang butuh penghargaan. Kita tahu bahwa saat menghargai orang maka mari kita bumbui dengan kegembiraan (dengan senyum), agar suasananya jadi lebih hidup dan akan selalu dikenang orang. Kalau ada orang yang berfikir bahwa keseriusan adalah milik orang dewasa, orang yang senang bercanda dianggap “ke kanak-kanakan”. Kalau boleh kita tidak seperti demikian. Karena orang dewasa yang berkarakter serba serius akan mudah jadi tegang dan stress. Oleh sebab itu, sekarang mari  kita berfikir bahwa suasana “fun”  (bergembiraan dan bercanda) juga harus dilakukan oleh orang dewasa saat bekerja, ini perlu dilakukan agar suasana di tempat kerja selalu menyenangkan.

Catatan: Hemsath, Dave dan Leslie Yerkes. 1997. 3001 Cara Agar Fun Di Tempat Kerja. Jakarta: Erlangga.
———-

Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

 

Iklan

Tentang history55education

Blog Education and History Renaissance
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s