Spartacus Sang Gladiator

Spartacus by Denis Foyatier, 1830

 Setelah nonton Spartacus: Blood and Sand dan Spartacus: Gods of The Arena saya ingin membahas sosok Spartacus lebih jauh. Bagi yang belum pernah menonton film seri dari Starz ini saya anjurkan nontonnya jangan sama anak kecil atau yang jantungan. Fim seri ini khusus untuk orang dewasa yang sehat karena berisi materi dewasa dan kekerasan. Gaya filmnya mengingatkan saya pada film graphic novel 300 dan Gladiator-nya Ridley Scott, hanya yang ini jauh lebih brutal. Pihak Starz sendiri berkilah bahwa kebrutalan dan paparan seks dalam filmnya adalah untuk menciptakan nuansa otentik pada jaman Romawi kuno.

Terlepas dari kekerasan dan seks yang diklaim agar menciptakan nuansa otentik, saya pikir Starz memang berhasil. Setiap detail di film ini memang benar-benar diperhatikan. Contohnya dalam gaya bahasa. Orang-orang Roma tidak mengenal kata “yes”, sebaliknya mereka memakai afirmasi yang menguatkan keinginan mereka

It also contains many unusual traits purportedly intended to convey a sense of authenticity. Though in English, the sentence structure seems archaic and follows something closer to Latin rules. For example, the definite and indefinite articles (“the” and “a”, in English) are avoided in many situations, and the word “yes”, which is absent in classical Latin, is replaced by affirming phrases, such as “that is my desire”.

wikipedia

Masih tentang penggambaran detail Romawi kuno, dalam Gods of The Arena ada adegan dimana backgroundnya adalah public bathroom. Kalo wc umumnya kayak begitu… saya gak berani boker disana :lol: (soalnya gak ada sekat satu sama lain, orang-orang boker bareng sambil ngegosip… hahaha)

Terlepas dari film2 diatas, sosok Spartacus sendiri bagi saya amat menarik. Spartacus adalah tokoh historis yang benar-benar ada. Ia memimpin para budak (gladiator) ke dalam perang Budak ke-3 (Third Servile War) yang merupakan perang budak terakhir dan sekaligus yang paling besar dalam sejarah Romawi.

Sedikit yang bisa kita ketahui dari masa lalunya, kecuali bahwa ia seorang thracian (suku-suku indo-eropa yang bermukim di eropa selatan – sekarang di Bulgaria). Plutarch, seorang sejarawan Romawi kuno menceritakan bahwa dulunya Spartacus pernah menjadi tentara Roma namun entah kenapa ia ditahan, kebebasannya direnggut (dijadikan budak) dan dikirim ke tempat pelatihan gladiator di Capua (semua gladiator adalah budak). Kemungkinan besar Spartacus bukan nama aslinya, mungkin hanya nama di arena dan nama inilah yang membuatnya terkenal.

Di dalam film seri Starz itu selain nama Spartacus ada nama Onemaus, Gannicus dan Crixus. Mereka adalah gladiator2 yang juga eksis dalam sejarah. Infact, merekalah yang kemudian menjadi jendral dalam peperangan yang disulut Spartacus.

Yang membuat film ini menarik bagi saya adalah sosok Spartacus yang berani bermimpi dan berbicara tentang kebebasan. Di saat semua budak lainnya hanya bisa pasrah dan menerima nasib buruk mereka sebagai budak, Spartacus tidak demikian. Ia pelan-pelan menyusun strategi dan kekuaatan demi mewujudkan cita-cita kebebasannya.

Dalam sejarah, Spartacus akhirnnya memimpin para gladiator melarikan diri dari tempat pelatihan Gladiator yang dipimpin oleh Quintus Lentulus Batiatus. Batiatus adalah seorang lanista (pemilik ludus – tempat pelatihan gladiator) di Capua. Pada masanya, Capua adalah daerah di Romawi yang menghasilkan gladiator-gladiator top.

Setelah melarikan diri dari Ludus, para gladiator memilih Spartacus sebagai sosok yang menginspirasi . Mereka lalu bergerak untuk membebaskan para gladiator lainnya. Dalam massa gladiator ini, Spartacus tidak menjadi seorang pemimpin tunggal karena ia tidak meniru hierarki militer Roma. Kekuatan (dan sekaligus kelemahan) para eks gladiator ini justru pada kepemimpinan yang desentralisir dengan mengacu pada Spartacus sebagai figur utama.

Makin lama bukan hanya para eks gladiator saja yang bergabung dengan Spartacus. Para budak-budak belian ikut melarikan diri dari majikannya dan bergabung dengan Spartacus. Kekuatan para eks budak ini tidak main-main dan dengan taktik yang tidak biasa, mereka beberapa kali mengalahkan Legion besar Romawi. Spartacus membuktikan bahwa selainberkharisma, ia juga seorang pengatur strategi ulung.

Namun kekuatan ini tidak bertahan lama menghadapi kedispilinan, jumlah dan senjata para serdadu profesional Roma. Meski gladiator dikenal hebat dalam bertarung, pertempuran dalam jumlah massif membutuhkan lebih dari sekedar kekuatan fisik dan keberanian.

Spartacus dkk akhirnya memang kalah dalam perang tersebut. Namun perjuangan mereka menginspirasi banyak orang. Khususnya dalam literatur barat, nama Spartacus sangat harum. Sejarah lengkap tentang perang Budak ke-3 bisa dibaca disini.

http://annunaki.wordpress.com/2011/07/19/spartacus-sang-gladiator/

Iklan

Tentang history55education

Blog Education and History Renaissance
Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s