MEMBANGUN UNIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR

Oleh : Mochtar Naim

UNIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR yang kita ingin bangun dan dambakan ini adalah sebuah “memorial university, dalam arti, kita membangun universitas dengan nama Mohammad Natsir ini adalah untuk mengenang jasa-jasa beliau kepada negara dan bangsa, baik sebagai pahlawan nasional, maupun sebagai pemimpin ummat. Ketimbang membangun tugu ataupun patung beliau yang tidak dianjurkan oleh Islam — bahkan dilarang –, membangun universitas dengan nama Universitas Mohammad Natsir (Mohammad Natsir University), memiliki nilai yang jauh lebih bermakna dan mulia.

Beliau, seperti sejarah mencatat, berjasa tidak hanya di bidang politik dan agama, tetapi tidak kurangnya juga di bidang pendidikan. Dengan membangun universitas memorial Mohammad Natsir ini berarti kita melanjutkan khittah perjuangan beliau yang mempunyai nilai dan makna tersendiri di ketiga bidang yang beliau geluti dan ungguli itu.

Mohammad Natsir, setamat beliau di AMS di Bandung, tahun 1930, memilih untuk menolak beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Belanda, untuk melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi di Rotterdam, Negeri Belanda, ataupun Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, Jakarta waktu itu. Beliau memilih untuk membuka sekolah yang beliau idamkan, dengan nama “Pendis,” Pendidikan Islam, di Bandung, yang kemudian berkembang ke berbagai kota dan daerah di Jawa Barat. Sayang, karena Perang Dunia Kedua, sekolah ini terhenti, tetapi idenya kembali bergaung dan dilanjutkan oleh sejumlah pesantren di Jawa dan Sumatera Barat.

Melalui sekolah itulah beliau menerapkan cita dan konsep beliau tentang pendidikan yang tidak mengenal pemisahan antara umum dan agama, dan antara dunia dan akhirat, tetapi menggabungnya dalam satu kesatuan yang utuh, holistik dan integral. Kendati ilmu bisa berbagai, karena obyeknya yang berbeda-beda, baik yang natural-fisikal, yang sosial-kultural dan yang humaniora, namun wujudnya adalah satu, yaitu mempelajari rahasia-rahasia keagungan asma dan kekuasaan Allah yang menciptakan semua itu. Semua apapun yang kita pelajari adalah dalam rangka pengabdian diri seutuhnya kepada Allah swt. Karenanya, tidak hanya di bidang politik dan agama, dalam bidang ilmu dan pendidikanpun beliau menerapkan pendekatan yang sifatnya integral dan utuh-menyeluruh (holistik, kaffah).

Konsep pendidikan yang integral dan utuh-menyeluruh ini, kebetulan dalam kita memasuki abad ke 15 H, atau abad ke 21 M, sekarang ini, mendapatkan semangat, stamina dan ruh baru. Abad ke 15H/21M sekarang ini kebetulan juga adalah awal dari era “Kebangkitan Tamaddun Islam Gelombang Ketiga” – sebagaimana tujuh abad Gelombang Pertama adalah masa keemasan Tamaddun Islam; tujuh abad Gelombang Kedua jatuh-terpuruknya Dunia Islam sampai Perang Dunia Kedua yl,  dan sekarang awal dari Kebangkitan Tamaddun Islam Gelombang Ketiga, yang insya Allah akan juga berjalan selama tujuh abad ke depan.

Ini artinya, dari segi ontologi dan substansi ilmu, masing-masing ilmu tidak lagi berdiri dan berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terkait dan saling isi-mengisi dari yang satu terhadap yang lainnya. Ilmu, karenanya, tidak hanya sekadar makanan otak dengan cara dan metodologi sendiri-sendiri, tetapi juga sekaligus dan pada waktu yang sama adalah juga makanan ruhani (spirit), rasa (emosi) dan akhlaq (etika), yang dimensinya adalah juga sosial-kultural di samping individual, dan bahkan jasadi (fisikal), dan yang kredonya adalah pengabdian seutuhnya kepada ke esaan Allah swt. Dawud Tauhidi, seorang bule muallaf dari Philadelphia, A.S., mengonsepkan pendekatan pendidikan “Tarbiyah” yang bersifat integral-holistik ini  yang sekarang menjalar ke seluruh dunia, khususnya Dunia Islam. Sementara di Indonesia sendiri konsep yang sama yang bersifat integral, kaffah dan holistik itu telah diluncurkan dan diterapkan oleh Mohammad Natsir sejak tahun 1930 itu.

Dalam rangka kembali kepada khittah yang telah dimulai dan dibentangkan oleh Bapak Mohammad Natsir di bidang pendidikan di tahun 1930 itu, waktunya kita sekarang menerapkannya kembali untuk kita semaikan kembali dan kita lanjutkan serta sebar-luaskan sehingga menjadi sistem pendidikan yang berorientasi nasional yang sifatnya integral, terpadu dan menyeluruh. Dengan demikian, kita mengubah sistem pendidikan kita yang berorientasi sekuler dan dualistik seperti selama ini menjadi sistem pendidikan yang integral dan terpadu, di mana kebutuhan intelektual berjalan seiring dan saling isi-mengisi dengan kebutuhan spiritual, emosional dan fisikal, yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial dan kultural. Dalam rangka itulah kita memerlukan sebuah universitas – Universitas Mohd Natsir – yang akan menjadi pusat think tank bagi pengkajian dan pengelaborasian dari konsep pendidikan yang integral-terpadu itu.

Kecuali itu, kehadiran Universitas Mohammad Natsir dirasakan urgensinya dalam rangka menyambut Tamaddun Gelombang Ketiga Dunia Islam yang tidak hanya berwawasan nasional tetapi juga internasional dan global. Dengan itu Universitas Mohammad Natsir tidak hanya milik bangsa Indonesia dan dunia Melayu, tetapi milik ummat Islam dan serata bangsa di dunia ini. Semua ini sejalan dengan cita-cita bangsa yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari pusat ibudaya Islam dan Dunia.

Sebagai konsekuensinya, Universitas Mohammad Natsir (UMN) harus membukakan pintu bagi kerjasama dan saling tolong-menolong dengan universitas manapun yang tidak hanya beruang-lingkup nasional dan regional Asia Tenggara, tetapi tidak kurangnya dunia Islam dan dunia internasional secara menyeluruh. UMN membukakan pintu bagi para mahasiswa yang datang dari belahan dunia manapun; menerima uluran tangan dari para pendidik dan pengajar serta peneliti dari negara manapun. Sendirinya juga, dalam rangka mempersiapkan pembangunan fisik dll dari Universitas Mohammad Natsir inipun kita mengajak negara-negara tetangga dan Dunia Islam untuk juga turut serta memberikan kontribusi finansial dan materialnya. Dengan nama harum yang dimiliki oleh Bapak Mohammad Natsir semasa hidupnya, khususnya di Dunia Islam, kita mengharapkan bantuan apapun dengan prinsip saling membantu dan saling mendapatkan manfaat, insya Allah yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Sebuah konsep yang jelas dan terinci, bagaimanapun, tentu diperlukan bagi pendirian Universitas Mohammad Natsir ini serta langkah-langkah yang akan dilakukan dan dilalui. Tidak kurangnya, dalam rangka penerapan sistem pendidikan yang integral dan terpadu, bukan hanya aspek manajerial dan strukturalnya yang dipersiapkan tetapi juga aspek akademik dan kurikulumnya. Sedemikian sehingga terlihat jatidiri dan kepribadian dari UMN ini yang merupakan refleksi dari jatidiri dan kepribadian Mohammad Natsir.

Sendirinya, dalam rangka membangun UMN ini, berbagai potensi dalam berbagai sektor diperlukan yang kesemuanya membayangkan kerjasama yang erat dan saling isi-mengisi. Berbeda dengan universitas manapun, UMN ini adalah sebuah memorial university yang didirikan bersama dan dimiliki bersama. ***

London, UK & Tilburg, Holland

31 Juli 2011

Tentang history55education

Blog Education and History Renaissance
Pos ini dipublikasikan di Hot News, Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s