Hijrah Itu Merubah

Oleh : Drs. H. Athor Subroto, M. Si*)

Walau tampaknya berbeda antara hijrah Rasul dengan hijrah kaum Muslimin di zaman global, namun esensinya memiliki kesamaan. Di zaman Rasulullah, ada dua esensi melekat. Pertama, Rasulullah Saw dan para sahabatnya – hijrah, berpindah dari Makkah ke Madinah. Kedua, ingin merubah kondisi kaum Muslimin dari tertekan – kepada kebebasan menyebarkan dan menjalankan syariatnya.

Di era global-pun juga demikian. Pindahnya seorang tokoh – dari suatu tempat ke tempat lain  untuk penguatan iman di daerah baru. Dari sini diharapkan perkembangan Islam semakin meluas dan kokoh. Contoh, pendirian masjid di suatu tempat – adalah suatu upaya pengembangan Islam di tempat yang tandus. Diharapkan – dakwah Islamiyah semakin meluas.

Dalam Islam – hijrah terbagi menjadi dua: Pertama, hijrah hissiyyah (hijrah fisik dengan berpindah tempat) dari darul khauf (negeri yang tidak aman) menuju darul amn (negeri yang aman). Seperti hijrah dari kota Makkah ke Habasyah (Ethiopia). Juga dari Makkah ke Madinah. Kedua, hijrah ma’nawiyah (hijrah nilai). Yakni, dengan meninggalkan nilai atau kondisi jahiliyah – untuk berubah menuju nilai atau kondisi Islamiyah. Seperti dalam aspek aqidah, ibadah, akhlaq, pemikiran, dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, dakwah, serta aspek-aspek lain.

Jika hijrah hissiyah bersifat kondisional dan situasional – serta harus sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Maka hijrah ma’nawiyah bersifat mutlak dan permanen. Sekaligus merupakan syarat dan landasan bagi pelaksanaan hijrah hissiyah. Hijrah ma’nawiyah inilah yang sebenarnya merupakan hakikat dan esensi dari perintah hijrah itu. Kuncinya ada pada kata perubahan – atau merubah  menjadi lebih baik.

Ya, ketika seseorang telah berikrar syahadat dan menyatakan masuk Islam dan beriman, ia harus langsung berhijrah ma’nawiyah ke arah perubahan total. Tentu tetap mengikuti prinsip pentahapan sesuai shibghah rabbaniyah.

Dan memenuhi tuntutan ber-Islam secara kaffah: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Guna menyambut – tahun baru hijriyah 1433, kita mesti melakukan muhasabah dengan bertanya – sejauh mana perubahan, peningkatan dan perbaikan Islami telah terjadi dalam diri kita. Baik dalam skala individu, kelompok, jama’ah, masyarakat, bangsa, maupun dalam skala ummat Islam secara keseluruhan? Hadits Nabi Saw:

Dari Abdullah bin Umar r.a. Nabi SAW bersabda, “Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan semua orang Islam dari lisan dan tangannya. Dan muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah” (HR. Bukhari)

Hadits ini menjelaskan salah satu karakter muslim. Sebagaimana salah satu makna Islam adalah “selamat” – yang diambil dari asal kata salima. Orang Islam adalah – orang yang menyelamatkan orang lain. Tidak mencelakakan, terlebih kepada sesama muslim.

Hadits tadi juga menunjukkan bahwa hakikat Islam bukan hanya baiknya hubungan manusia dengan Rabbnya (hablun minallah), tetapi juga harus baik hubungannya dengan sesama manusia (hablun minannas). Dan salah satu indikasi baiknya hubungan dengan sesama manusia, khususnya sesama muslim, adalah terjaganya kaum muslimin dari gangguan lisan dan tangannya.

Karakter muslim yang juga menjadi hakikat muslim sejati – dia tidak membahayakan muslim yang lain. Tidak pula mencelakakan mereka. Dia tidak membuat sesama muslim – menjadi binasa karena lisan dan tangannya. Lisan – berarti ucapan dan perkataan. Sedangkan tangan adalah perbuatan, sikap, juga keputusan-keputusannya.

Muslim sejati akan benar-benar menjaga lisan dan tangannya agar tidak sampai menyakiti sesama muslim. Lisannya dijaga – agar jangan sampai mengeluarkan perkataan yang menyakitkan. Ucapannya dijaga – jangan membuat hati terluka. Jangan membiasakan kebohongan yang mendatangkan keburukan. Menghindari ghibah yang menjatuhkan harga diri. Juga menjauhi umpatan yang memicu kemarahan, dan celaan yang mendatangkan penghinaan. Apalagi fitnah yang mencelakakan.

Tangannya juga dijaga sebaik-baiknya, agar jangan sampai memukul sesama muslim, memecah belah persatuan, mendatangkan kerusakan dalam kehidupan mereka, menzhalimi hak-hak mereka, menindas mereka yang lemah, merongrong stabilitas umat, dan sebagainya.

Maka, sudah menjadi keharusan – jika orang Islam memiliki kekuasaan, ia harus menjaganya agar jangan sampai kekuasaan itu menyakiti kaum muslimin, menzhalimi, menindas, atau merampas hak mereka.

Hijrah merupakan peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam. Perpindahan Nabi Muhammad dan para sahabat dari Mekah ke Madinah ini selain sebuah strategi politik juga menjadi cerminan betapa tingginya tingkat keimanan kaum muslimin saat itu. Tanpa keimanan yang kuat, mereka pasti akan enggan meninggalkan tanah kelahiran pergi merantau ke tempat yang jauh. Al-Quran menyebutkan hijrah sebagai salah satu kriteria iman yang benar.

 “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman” (QS. Al-Anfal [8] : 74)

Menurut Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asqari, dalam Jubdat al-Tafsir min Fath al-Qadir, orang-orang yang benar-benar beriman itu artinya orang-orang yang sempurna dalam keimanannya. Mereka bersedia berhijrah dan berjihad di jalan Allah sebagai realisasi dari karakteristik orang-orang yang beriman kepada Allah Swt.

Namun Rasulullah Saw telah menyatakan bahwa – setelah penaklukan-Mekah (futuh al-Makkah) tidak ada lagi hijrah. Lalu bagaimana cara kita agar bisa memperoleh pahala dan kedudukan hijrah? Kita bisa melakukan hijrah secara maknawi. Hijrah ini bukan lagi perpindahan tempat namun lebih esensial yaitu perpindahan karakter dari sifat-sifat yang buruk menuju sifat-sifat yang baik. Merubah karakter dari tidak baik menuju yang lebih baik.

Hal ini bisa dilakukan melalui empat bentuk hijrah, yaitu : hijrah dari kebodohan menuju kecerdasan; hijrah dari syirik (menyekutukan Allah) menuju tauhid (mengesakan Allah); hijrah dari perpecahan menuju persatuan dan terakhir hijrah dari perbuatan dosa menuju taubat. Allah berfirman dalam Surat al-Muddatstsir [74] ayat 5, “dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah” (HR. Bukhari).

Berangkat dari firman Allah Swt dan sabda Rasulullah Saw di atas, tentu sebagai mu’min akan senantiasa berusaha menjaga dirinya dari ucapan, sikap dan perilaku yang menyimpang dari aturan dan hukum-Nya. Selanjutnya – tetap istiqomah dalam meniti jalan menuju ridha Allah.

Jadi siapapun yang menjauhi setiap larangan Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, mereka akan memperoleh derajat yang sama dengan derajat orang yang berhijrah. Bagi orang yang berhijrah, Allah memberikan jaminan mereka akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan menemukan di muka bumi ini tempat yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa yang berhijrah dari rumahnya dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpa (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa [4]: 100).

Pergantian tahun baru hijriyah ini, seyogyanya dijadikan momentum – untuk memotivasi semangat dan pembaru tekad guna menghijrahkan diri – menuju totalitas Islam. Ini, sebagai syarat dan dasar dalam mengemban amanah dakwah. Menegakkan kewajiban jihad fi sabilillah. Memenangkan dinullah dan menggapai surga serta ridha Allah swt. Merubah dari yang tidak diridhai – menjadi ridha Ilahi. Semoga.

*) Staf Pengajar STAIN Kediri /  Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul ‘Ula (STAIM) Nglawak Kertosono Nganjuk.

—————-
Download artikel ini dalam format word-document [klik disini]

Tentang history55education

Blog Education and History Renaissance
Pos ini dipublikasikan di Islami dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Hijrah Itu Merubah

  1. raraalhaura berkata:

    ya..semoga kita bisa menjadi pribadi yang sempurna. melaksanakn islam secara sempurna, sehingga nantinya kta mampu mjd seorang muslim yang benar-benar kaaffah.

    tapi, bisakah kita melaksankn islam secara sempurna, jika aturan secara umum bukanlah aturan islam. pdhal kita banyak berinteraksi didalmnya??
    what should we do??
    i think we have spread it into the world = da’wah.
    right???
    no matter how hard it is, but it will be special if we doo it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s